Duta Damai Dunia Maya, Penjaga Spirit Sumpah Pemuda di Era Digital

1
217
views
duta damai dunia maya

Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Kami poetra dan poetri Indonesia, mendjoengdjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia”

Jas merah! Jangan sekali-sekali melupakan sejarah.

Sumpah pemuda merupakan ikrar yang menjadi bukti autentik bahwa bangsa Indonesia telah lahir bahkan jauh sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. 28 Oktober 1928 menjadi tonggak sejarah persatuan pemuda dari berbagai suku di Indonesia. Mereka berangkat dari isu yang sama yaitu keinginan terlepas dari belenggu penjajahan kolonial Belanda.

Perjuangan sebelum sumpah pemuda masih bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Bataks Bond, Pemuda Kaum Betawi, Studerence Minahasa,dll. Bukan hal yang mudah untuk melepas kepentingan golongan, agama dan daerah, tetapi cita-cita mulia untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia mampu menyatukan mereka. Sumpah pemuda menjadi momentum intergrasi ideologi nasional.

Dalam peristiwa sumpah pemuda, untuk pertama kalinya lagu kebangsaan Indonesia Raya diperdengarkan. Sumpah pemuda menjadi senjata ampuh untuk merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah. Kemerdekaan yang akan sangat sulit didapatkan jika pemuda dan rakyat masih terpecah belah dan terkungkung dalam egoisme kedaerahan.

Menjaga spirit sumpah pemuda di era digital

Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia adalah tugas segenap rakyat Indonesia terutama pemuda. “Jika kau ingin melihat nasib sebuah bangsa, maka lihatlah pemudanya.” Kalimat tersebut bukanlah isapan jempol belaka, karena di tangan pemuda estafet kepemimpinan bangsa ini akan dilanjutkan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2015, jumlah pemuda di Indonesia sebanyak 62,4 juta orang. Angka tersebut sekitar 25% dari jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 250 juta jiwa. Di tengah berbagai isu intoleransi dan radikalisme yang menyerang Indonesia, sudah saatnya pemuda Indonesia mengambil peran aktif untuk menjaga persatuan dan kesatuan NKRI.

Salah satu langkah nyata yang dapat diambil pemuda Indonesia untuk menjaga spirit sumpah pemuda adalah dengan menjadi Duta Damai Dunia Maya.

Duta damai dunia maya merupakan kumpulan pemuda Indonesia yang kreatif, inovatif, dan memiliki komitmen yang sama untuk menyebarkan konten-konten damai di dunia maya. Untuk menjadi duta damai dunia maya tidak ada paksaan, atau bersifat relawan. Meskipun didirikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), duta damai dunia maya bersifat independen.

Duta damai dunia maya pertama kali dibentuk pada tahun 2016 dan kini telah memiliki anggota di 10 provinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sulawesi Selatan, Kalimatan Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Di masing-masing provinsi duta damai dunia maya memiliki 60 orang anggota yang terdiri dari 30 orang blogger/penulis, 20 orang designer grafis, dan 10 orang ahli IT. Mereka terbagi menjadi 5 kelompok dan mengelola website yang berisi kontent-kontent perdamaian dan kontra propaganda radikalisme. Selain itu, mereka juga menyebarkan konten-konten tersebut di media sosial seperti facebook, instagram, twitter, dan youtube.

Kenapa harus menjadi Duta Damai Dunia Maya?

Teroris dan penganut faham radikal telah memasuki gaya baru dalam menyebarkan propagandanya. Mereka telah membidik kaum muda yang kini gandrung dengan dunia maya atau kerap disebut generasi mileneal.

Pada tahun 2016, pengguna aktif internet di Indonesia sebanyak 137,2 juta orang. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), sebanyak 24,4 % pengguna aktif internet merupakan pemuda dengan rentang usia 24-34 tahun. Sebanyak 18,4 % pengguna internet merupakan remaja dengan rentang usia 10-24 tahun. Pemuda dan remaja merupakan sasaran empuk penyebaran konten propaganda radikalime dan terorisme di dunia maya. Mereka memiliki jiwa yang masih cukup labil dan mudah dipengaruhi oleh pemahaman yang keliru.

Berdasarkan data BPS, sebanyak 80,05% masyarakat Indonesia mengakses internet dengan tujuan untuk keperluan media sosial. Sebanyak 88 juta pengguna internet di Indonesia memiliki akun facebook menjadikan Indonesia sebagai negara pengguna facebook terbesar ke-dua di Asia. Sebanyak 24,34 juta penduduk Indonesia memiliki akun twitter menempat Indonesia sebagai negara pengguna twitter ke-tiga di dunia setelah Amerika dan India.

Tingginya angka pengguna media sosial di Indonesia tidak terlepas dari penyebaran berbagai konten propaganda radikalisme dan terorisme. Kita tidak bisa memungkiri rendahnya kemampuan literasi masyarakan Indonesia. Literasi adalah kemampuan seseorang dalam memahami informasi yang didapatkan saat melakukan proses membaca dan menulis.

Sebuah study yang dilakukan oleh John W. Miller, President OF Central Connecticut State University di New Britain terhadap 61 negara di tahun 2016 menempatkan Indonesia pada posisi 60 sebagai negara dengan kemampuan literasi terburuk. Melihat data tersebut, bukan hal yang mengejutkan jika banyak menyebar konten negatif (hoax, scam, dan ujaran kebencian) di dunia maya.

Untuk melawan penyebaran konten negatif di dunia maya, maka menjadi bagian dari Duta Damai Dunia Maya adalah hal yang sangat penting. Sudah saatnya generasi muda bangsa ini membanjiri dunia maya dengan konten positif dan kontra propaganda radikalisme serta terorisme.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here