Mahasiswa Cerdas Lawan Radikalisme di Kampus

9
508
views
Mahasiswa Lawan Radikalisme

Hidup mahasiswa! Pekikan ini tidak hanya sebuah slogan. Kalimat yang melambangkan gairah, kekuatan, dan semangat di dalam diri seorang pemuda yang menyandang predikat mahasiswa. Semangat para mahasiswa menjadi amunisi dalam pergerakan intelektual di kampus.

Semangat para mahasiswa kini telah dilirik oleh organisasi yang ingin menyebarkan radikalisme di kampus. Seperti yang dilansir oleh Sindonews.com pada tanggal 07 Mei 2017, kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius menyampaikan, “ Penyebaran radikalisme di kampus sudah sangat gawat sekali. Sudah tidak ada sekat. Kalau tidak gerak cepat untuk mengawasinya tentunya akan membahayakan terhadap anak-anak kita nantinya dan tentu bangsa ini sendiri.” Hal tersebut terbukti dengan adanya deklarasi khilafah di satu kampus yang ada di wilayah Jawa Barat.

Hal senada disampaikan oleh Harmoko selaku Ketua Departemen Internal Kampus BEM Universitas Mataram. ” Beberapa mahasiswa Universitas Mataram sudah tergabung ke dalam organisasi HTI. Beberapa kali HTI mengundang anggota BEM Universitas Mataram untuk berdiskusi terkait isu-isu kekinian di Indonesia,” ujarnya. Akan tetapi, pihak BEM universitas Mataram tidak pernah merespon undangan diskusi tersebut.

Di tengah gencarnya propaganda radikalisme di kampus, mahasiswa harus pandai memilih organisasi yang akan dimasuki. Mahasiswa harus menghindari organisasi atau kelompok yang merupakan perpanjangan tangan dari Hizbuttahrir Indonesia (HTI). Organisasi radikal tersebut biasanya akan mendoktrin anggotanya untuk ikut terlibat dalam pembentukan khilafah islamiyah dan ingin menghapus NKRI.

Berikut beberapa ciri organisasi atau kelompok yang menyebarkan propaganda radikal di kampus:

1. Organisasi atau kelompok bersifat eksklusif

Organisasi yang bersifat eksklusif biasanya akan membatasi pergaulan anggotanya. Menganggap organisasinya sebagai organisasi yang paling benar serta sering “mengkafirkan” kelompok/organisasi lain. Anggota organisasi/kelompok ini sulit menerima perbedaan pendapat dengan orang lain.

2. Terdapat pembaiatan terhadap anggota baru

Pembaiatan terhadap anggota menjadi pintu gerbang masuknya mereka ke dalam kelompok radikal. Pembaiatan tersebut akan diikuti dengan perintah-perintah yang bersifat “amniyah” atau rahasia. Penugasan tersebut sebagai ajang uji coba untuk melihat loyalitas para anggota organisasi.

3. Anggota organisasi memiliki jenjang tertentu yang bersifat rahasia

Dalam organisasi biasa, penjenjangan anggota bersifat sangat terbuka. Setiap anggota organisasi dapat saling mengetahui tingkatan keanggotan dalam organisasi yang mereka ikuti. Hal tersebut akan sangat berbeda dengan organisasi radikal. Penjenjangan anggota bersifat sangat tertutup dan rahasia.

4. Propaganda mengenai nasionalisme

Bagi organisasi radikal, nasionalisme tidak memiliki sekat wilayah tetapi sekat ideologi. Hal tersebut lama kelamaan akan mengikis kecintaan anggota kelompok kepada NKRI, UUD 1945, dan Pancasila. Para anggota organisasi akan menilai nasionalisme hanyalah pemahaman yang bertentangan dengan tujuan utama ideologi yaitu membentuk khilafah.

Radikalisme di kampus sangat berbahaya bagi masa depan bangsa Indonesia. Terkikisnya kecintaan kepada NKRI di kalangan kaum intelektual akan berdampak buruk bagi keutuhan NKRI. Melihat dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh radikalisme di kampus, mahasiswa harus bersatu dengan civitas akademika untuk melawannya.

Langkah cerdas mahasiswa dalam melawan radikalisme di kampus:

1. Memproduksi dan menyebarkan kontent kontra propaganda radikalisme

Kampus merupakan lahan yang sangat empuk untuk perang opini. Mahasiswa bisa melawan penyebaran paham radikal di kampus dengan melawan opini yang dibentuk kelompok/organisasi radikal tersebut.

Dengan menyebarkan kontent kontra propaganda radikalisme, setidaknya mahasiswa memberikan second opinian atau opini pembanding untuk mengcounter penyebaran pemahaman radikal. Kontent kontra propaganda tersebut bisa disebarkan melalui media cetak seperti majalah kampus maupun melalui dunia maya.

2. Mahasiswa membuat wadah diskusi untuk melawan radikalisme

Mahasiswa sebagai kaum intelektual membutuhkan ruang diskusi untuk menyampaikan opini dan gagasan secara langsung. Ruang diskusi dapat membuka wawasan mahasiswa akan faham-faham radikal yang sedang berkembang di kampus.

Mahasiswa atau pemuda yang menjadi korban faham radikal biasanya mereka yang kurang bertukar pikiran dengan orang lain. Informasi yang didapatkan ditelan tanpa dicerna apalagi dibedah secara mendalam. Dengan diskusi diharapkan dapat menekan penyebaran radikalisme terutama untuk mahasiswa baru yang belum mengenal dunia kampus.

Ziadah, dosen Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram mengatakan, “mahasiswa harus berpikir kritis dalam menerima informasi terutama di dunia maya. Sebaiknya mahasiswa lebih mengikuti akun media sosial yang bermanfaat untuk perkembangan pengetahuan dan akademik.”

3. Mahasiswa bekerjasama dengan civitas akademika

Penyebaran faham radikal akan semakin berkembang pesat jika terjadi pembiaran dari pihak kampus. Harus ada tindakan yang tegas dari pihak kampus kepada kelompok/organisasi yang menyebarkan radikalisme. Mahasiswa bisa mengambil peran sebagai pemberi informasi kepada pihak kampus tentang aktivitas yang dilakukan oleh organisasi radikal.

Melihat dampak negatif dari penyebaran faham radikal di kampus, mahasiswa harus lebih selektif dan mengikuti sebuah organisasi atau kelompok. Mahasiswa perlu mengenali ciri-ciri organisasi radikal agar tidak menjadi korban propaganda.

Mahasiswa juga harus berperan aktif dalam melawan radikalisme di kampus dengan membuat kontent-kontent kontra propaganda serta melakukan diskusi-diskusi ilmiah. Kerjasama antara mahasiswa dan civitas akademika kampus juga sangat penting agar kampus benar-benar bersih dari faham radikal yang mengancam masa depan NKRI.

 

9 COMMENTS

  1. Pemahaman radikal, tentunya tidak hanya muncul dalam dalam islam. Pemahaman ini muncul karenA banyak faktor, salah satunya adalah karena kesalahan dalam memahami subtansi dari suatu ajaran.

    Salah satu cara paling efektif untuk memerangi pemahaman ini, khususnya dalam islam, selain seperti yang sudah disebutkan dalam tulisan di atas adalah dengan menghadirkan sosok ustadz, ulama, atau kiyai yang memiliki pemahaman lebih moderat.

    Kita barangkali tidak bisa melawan faham kiri dengan kanan, walaupun sepadan, tapi akan terjadi benturan hebat yang akan menyulut pertikaian panjang.

    Dibutuhkan orang-orang tengah(moderat) yang lebih bijak dan pendapatnya berpeluang didengarkan.

  2. intien pentar jagaq diriq. mun jenang mencong2 ruen manusien mok mencong tat tetenaq, artien ndeq sesuai maraq kaidah atau syariat sak biasen jek bilinen. nyandang tat bebatur. Lo Gue End unit keneen. tinjal tungkiln mok bilin peresitn

  3. Menyepakati usaha yg konsisten agar tak mudah terbawa faham ini itu.
    Juga komitmen teguh untuk lebih suarakan konten-konten serba positif, baik online mau pun offline.
    Semoga bersama-sama dengan Duta Damai dan mahasiswa, kita semua berada di barisan besar yg sama, pengunggah dan penebar konten serba positif.
    Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here