Memaknai Sumpah Pemuda Dengan Menjadi Duta Damai Dunia Maya

0
160
views
Duta damai, BNPT, PMD, Duta damai mataram, perang terorisme, cegah terorisme, lawan radikalisme, blogger mataram melawan teroris
Salah Satu Kelompok Duta Damai Mataram

Menjelang senja di Kota Mataram bagian utara, dua wanita muda tampak tergesa, langkah mereka terlihat bergegas, memasuki sebuah hotel ternama. Semangat terpancar dari raut wajah mereka.

Ika Rosiana (Ika) dan Baiq Nila Ayu Purnama Sari (Nila), itulah nama keduanya, mahasiswi dari dua perguruan tinggi, dengan keahlian dan daerah asal berbeda. Mereka sebelumnya belum pernah berjumpa, namun kesamaan pandangan dan tujuan membuat takdir mempertemukan mereka dalam sebuah rangkaian acara, dan kemudian menyatukan mereka layaknya saudara.

Duta Damai Dunia Maya, ya, itulah kegiatan yang mereka ikuti. Sebuah kegiatan yang dilaksanakan oleh Pusat Media Damai, lembaga bentukan Deputi Pencegahan Perlindungan dan Deradikalisasi Terorisme yang bernaung di bawah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. Kegiatan ini diikuti 60 peserta yang dibagi dalam 5 (lima) kelompok terdiri dari blogger, tenaga IT dan DKV, dimana tujuan pembentukannya sendiri adalah menyiapkan tenaga sukarela, guna membantu pemerintah melakukan upaya mengkonter propaganda radikalisme dan terorisme yang berupaya merasuki dan meracuni pikiran anak bangsa dengan cara membuat dan menyebarkan konten-konten positif di dunia maya melalui situs yang mereka buat.

Kembali ke kedua wanita muda. Selama kegiatan itu berlangsung, sama sekali tidak tampak rasa takut ataupun khawatir di wajah mereka, uraian – uraian yang disampaikan pembicara malah membuat mata mereka menyala, raut wajah menahan amarah, ketika melihat segala macam tayangan yang bersifat propaganda.

Lalu dari mana keberanian mereka timbul?

Ini semua berawal dari keprihatinan mereka melihat maraknya berita di dunia maya tentang propaganda penyebaran faham radikal yang berupaya mengganggu stabilitas negara. Maka berlandaskan rasa cinta kepada bangsa, patriotisme yang tinggi, dengan kesadaran yang penuh mereka merelakan dirinya membantu tercapainya damai di Indonesia. Sungguh suatu upaya yang patut diapresiasi, di tengah fenomena sikap pemuda yang cenderung apatis, mereka berfikir berbeda, berusaha ikut menjaga kedaulatan negara, membantu membangun negara dengan cara yang mereka bisa.
Radikalisme dan Terorisme sendiri sejatinya memanglah sesuatu yang harus diperangi, karena dua faham ini bukan hanya dapat merusak tatanan bangsa, tapi juga bisa menghancurkan sebuah negara.

Lantas bagaimana cara kita untuk mengatasinya?

Rasa takut yang coba dimunculkan oleh para penganut faham radikalisme dan terorisme melalui propaganda, ancaman dan tindakan anarki sejatinya harus ditangkal sedini mungkin. Dan dalam hal ini para pemuda haruslah menjadi ujung tombak, mereka harus cerdas dalam menyikapi dan menelaah apa yang mereka baca, menyaring setiap informasi yang masuk dan tidak mudah terprovokasi.

Tidak kalah pentingnya, pemuda harus bekerja sama, minimal dengan cara saling mengingatkan untuk tetap membentengi diri agar tidak mudah teracuni. Satu hal yang harus mereka tanamkan dalam diri, bahwa NKRI Harga Mati, tidak ada tawar menawar lagi.

Tentu saja banyak cara untuk berkonstribusi bagi keutuhan dan kemajuan bangsa. Dua wanita muda cerdas di atas telah mencoba dengan caranya, yaitu menjadi Duta Damai Dunia Maya.

Lalu, bagaimana dengan anda?
Apakah anda akan berdiam diri saja?
Pernahkah terfikir di benak anda bahwa siapa tahu, mungkin saja mereka yang teracuni otaknya adalah, saudara kita. Oleh karenanya, Ayo bantu jaga negara kita, laporkan segala bentuk faham yang menyimpang.
Jangan hanya diam, karena diam hanya akan membuat mereka semakin digdaya. Karena diam tanpa bertindak sama halnya dengan membiarkan Negara Kesatuan Republik Indonesia menuju jurang kehancurannya.
Jika anda masih berdiam diri, apalagi anda seorang pria, maka wajib malulah anda dikalahkan oleh dua sosok wanita muda. Ayo, jangan takut! Bersama kita perangi radikalisme dan terorisme, demi keutuhan negara tercinta.

Hari ini, 89 tahun yang lalu, para pemuda Indonesia telah bersepakat untuk bersatu dalam mewujudkan cita. Satu nusa satu bangsa dan satu bahasa, itu slogan mereka. Sekarang yang harus kita kerjakan adalah menjaga dan meneruskan apa yang telah mereka lakukan, tetap berada dalam bingkai, negara kesatuan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here