TGB, Toleransi, dan Nafas Pembangunan NTB

1
205
views
TGB saat berdiskusi dengan Duta As
TGB saat berdiskusi dengan Duta As

Di tengah maraknya isu sara dan ancaman perpecahan yang melanda negeri ini, NTB justru semakin konsisten dalam mencerminkan kehidupan umat islam di Indonesia yang penuh dengan moderasi dan toleransi serta selalu mengedepankan nilai-nilai kebersamaan.

Jika beberapa waktu lalu, pidato perdana Gubernur terpilih Jakarta, Anies Baswedan sempat menuai kontroversi karena menyebut kosa kata Pribumi, maka sepekan silam, Gubernur NTB, Muhammad Zainul Majdi malah menghadiri konferensi internasional bersama 400 ulama dalam rangka membahas islam moderat di Islamic Center Mataram.

***

“Contoh di NTB ini, kami kehilangan di Arab.” Demikian kata Prof DR Syekh Afdul Fadhiel El-Qoushi, saat pembukaan Multaqa Nasional Alumni Mesir, di Ballroom Islamic Center NTB, Rabu (10/2017) lalu.

Qoushi bukanlah profesor sembarangan. Ia adalah ulama besar Al-Azhar. Ia wakil ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Wakaf Mesir. Dikutip dari Biro Humas Protokol NTB, ia menyatakan kekagumannya sekaligus menyerukan kepada umat islam di seluruh dunia untuk mencontoh kehidupan toleransi di NTB.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan bahwa islam itu bukanlah potongan-potongan tubuh manusia yang terlempar akibat bom bunuh diri. Islam itu bukanlah kehidupan yang saling membenci atau saling menjauhkan diri dengan umat lain. Namun, islam itu adalah saling berkontribusi, saling membangun hidup dan saling memberi kemanfaatan dalam kedamaian dengan seluruh umat beragama. Seperti yang dulu pernah dicontohkan oleh Rasulullah saat membangun Kota Madinah.

Hanya saja, ia masih terheran kenapa toleransi yang baik di NTB ini belum ditularkan di seluruh belahan dunia. Padahal menurutnya, umat islam di belahan bumi sana sangat merindukan kehidupan beragama yang damai dan penuh toleransi layaknya di NTB. Katanya, yang dibutuhkan islam saat ini bukanlah apa yang tertulis di buku-buku atau pidato-pidato, melainkan pengalaman nyata serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Terkait toleransi, saya mengamini pernyataan Qoushi. Di mata saya, NTB adalah oase perdamaian yang telah lama dirindukan banyak orang. Meski termasuk Provinsi dengan mayoritas penduduk muslim, faktanya sejauh ini, NTB dinilai sukses dalam menjaga toleransi antar umat beragama. Hal itu tercermin dalam tatanan kehidupan masyarakat di Bumi Seribu Masjid yang menilai keberagaman sebagai sebuah keniscayaan. Maka, tak berlebihan jika saya menyimpulkan bahwa interaksi sosial di NTB dapat meluruskan persepsi tentang islam yang selama ini sering disalahartikan.

Semangat merawat denyut toleransi di NTB tentunya tidak terlepas dari peran strategis sang Gubernur, Muhammad Zainul Majdi yang kerap disapa TGB. Dalam kurun waktu dua periode kepemimpinannya, TGB tak hanya berhasil menerapkan nilai-nilai moderasi islam dengan baik di tengah masyarakat, tetapi juga menjadikan itu sebagai energi yang kelak membawa NTB ke arah keunggulan.

Hal ini terbukti mengingat laporan Kata Data Indonesia bahwa, selama tiga tahun berturut-turut, ekonomi NTB tumbuh di atas rata-rata nasional yakni di atas lima persen. Pada 2016, mencapai angka 5,28 persen, sementara pertumbuhan nasional di bawah angka lima persen. Sedangkan, tingkat pengangguran terbuka dengan indeks Rasio Gini sebesar 0,36, lebih baik dari rata-rata nasional yang berada pada angka 0,40. Angka kemiskinan sejak 2008 hingga 2016 juga berhasil diturunkan dari 23,4 persen menjadi 16,02 persen.

Tak hanya itu, di sektor pariwisata, NTB juga telah berhasil meraih predikat sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia dan destinasi wisata bulan madu halal terbaik dunia dalam ajang World Halal Tourism Awards 2016 lalu. “Tanpa kedamaian dan kerukunan di masyarakat yang merupakan salah satu bentuk moderasi islam, mustahil kami bisa membangun NTB” ujarnya.

Moderasi islam yang dimaksud TGB seyogyanya adalah islam yang toleran, jalan tengah, ramah dan mengayomi, membawa kedamaian, saling menghormati dan menerima segala perbedaan. Bukan islam yang justru mengancam, saling menegasikan, serta menebar teror dan ketakutan. Pada titik tertentu, saya kerap kagum dengan sikap kepemimpinan serta wawasan Gubernur muda yang satu ini. Di saat banyak pemimpin lain lebih memilih memunculkan kontroversi yang lalu memantik kegaduhan, ia justru tampil dengan satu gagasan yang seakan menebas segala pertentangan.

Menurut Qoushi, moderasi islam sangatlah dibutuhkan di tengah dunia yang terkoyak oleh berbagai paham, aliran, dan kelompok yang serba ekstrem, baik kanan maupun kiri. Dari liberalisme, anti agama, hingga islamofobia. Dari takfiri, hingga menganggap dirinya paling benar dan orang lain selalu salah.

Di Indonesia, perbedaan memang kerap dijadikan alat propaganda demi kepentingan tertentu. Entah kenapa, kita selalu sibuk mempersoalkan identitas seseorang, tanpa masuk ke ranah substansi. Kita selalu berdebat menyoal ideologi, agama seseorang pemimpin, berapa kali orang lain beribadah, tanpa membahas sejauh mana kapasitas dan kemampuan orang itu.

Dimana-mana, kita lebih tertarik membuktikan orang lain adalah kafir dan akan masuk neraka, tanpa menjadikan diri kita sebagai berkah bagi sekeliling. Kita juga alpa membahas bagaimana langkah-langkah kecil untuk menggapai mimpi bangsa yakni mencapai masyarakat yang adil dan makmur, material dan spritual. Tidak melihat keberagaman sebagai energi untuk membuat bangsa ini melesat dan jauh menjadi negeri paling unggul.

Pada titik ini, saya bisa memahami mengapa seorang TGB begitu dicintai.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here